"Assalamu'alaikum,Welcome to my blog dear friends"

Pages

Thursday, December 20, 2012

Palembang-Lahat dan Kereta Api

peron kereta api tak beratap
Tanggal 5 Desember yang lalu, kami sekeluarga pergi ke Palembang lagi, mengunjungi saudara perempuanku. Namun kali ini perjalanannya menggunakan jasa kereta api. Selain harga tiketnya lebih murah, perjalannya tidak bikin mabuk. Maklum saja kami memang tidak tahan melakukan perjalanan jauh dengan mobil. Sepanjang jalan akan dihiasi dengan erangan pusing dan hoekan muntah.
Ada satu hal lagi yang membuat kami menggunakan jasa kereta api. Tiketnya sekarang bisa di beli di Indomaret, tapi dengan menambah sedikit uang untuk biaya administrasi. Tapi dari pada kita antri lama-lama di loket dan belum tentu dapat tiket (kalau sedang hari libur ramai penumpang), lebih baik kita membeli di Indomaret.

Jadwal berangkatnya sekitar setengah satu siang, tetapi karena kereta dari Linggau baru tiba sekitar jam satu lewat, jadinya jadwal keberangkatan diundur menjadi jam setengah dua siang. Panas banget. Sebenarnya sih ada ruang tunggu tapi hanya satu dan kecil. Para penumpang lebih memilih menunggu di peron.(benar nggak sih istilahnya??) Tapi satu hal yang bikin pusing, peronnya tidak ada atapnya. Bayangkan saja tengah hari bolong nunggu di peron yang tidak ada atapnya. Wuih....., rasanya seperti jadi ikan asin.

petugas yang memantau kedatangan kereta api

Ortuku tercinta sedang berpanas-panas ria
 Akhirnya naik juga deh, ke kereta api. Sekarang sudah tertib. Setiap penumpang yang membeli tiket mesti mendapatkan tempat duduk. Lahat merupakan stasiun perlintasan dari Linggau-Palembang atau Palembang-Linggau.
Biasanya waktu tempuh dari Lahat-Palembang kurang lebih lima jam. Namun semenjak ada eksploitasi batu bara, maka jadwal kereta api penumpang juga terpengaruh. Apalagi ketika jadwalnya tidak tepat waktu seperti kali ini. Kereta yang kami tumpangi seringkali berhenti untuk menunggu perlintasan dengan kereta babaranjang (kereta pengangkat batu bara). Di setiap stasiun kecil kereta api juga berhenti sebentar. Penjual asongan, makanan, dan pengamen tentu saja tetap menghiasi perjalanan ber-kereta api.
Panasnya tidak terkira karena tidak ber-ac. Ditambah dengan bau durian dan tempoyak(durian yang sudah difermentasi) yang dibawa oleh penumpang (Lahat sedang musim durian).Ketika hari menjelang malam keadaan baru mulai agak nyaman. Tetapi kereta api belum juga sampai. Untuk mengisi kebosanan aku mengambil foto dari jendela dengan kamera Hp.
Bukit gundul bertingkat bekas penambangan batubara

pohon-pohon seperti berlari

penumpang kereta api yang kepanasan

kereta api melewati kebun karet warga

Pohon sawo besar, buahnya dijual sebagian warganya di kereta api


melewati persawahan 

sampai malam menjelang
Akhirnya, kurang lebih jam setengah delapan malam kami tiba di stasiun Kertapati Palembang. Alhamdulillah.
Hari minggunya kami pulang kembali ke Lahat dengan kereta api lagi. Melewati sungai Musi, ke Stasiun Kertapati, kami pun akhirnya kembali ke bumi Seganti. Senangnya lagi kereta apinya berangkat tepat waktu-kereta api berangkat jam 9.30 , sehingga kami tiba di Lahat sekitar jam setengah tiga-an. Alhamdulillah.




sungai musi

stasiun Kertapati



No comments:

Post a Comment